MEDIA SOSIAL

by - 11:31:00 AM

Zaman telah berubah. I mean, dunia masih seperti dulu tapi penghuninya lah yang telah memoles  sana sini hingga sekarang begitu berbeda dari tahun – tahun terdahulu. Percaya deh walaupun aku dibesarin tanpa gadget dan mainan yang selalu dimainkan cukup duduk atau baring – baring manis, tapi aku benar – benar bahagia pada saat itu. Semua dilakukan diluar rumah; main saman, main lompat tali, main rumah – rumahan n finally main di selokan (yang ini kebangetan hehehe). Namun, semua kegiatan tersebut ternyata membuat anak – anak yang terlahir di tahun 90-an ke bawah tumbuh menjadi anak yang sehat dan punya jiwa sosial yang lumayan tinggi juga lho. 

Tanpa menghujat siapa pun aku sangat menyesali pertumbuhan anak – anak jaman sekarang. Mereka lebih semangat main di gadget, ketawa ngakak ketika berbalas – balasan chat di jejaring sosial atau mengumpat – ngumpat kesal ketika game yang dibawakan game over. Kesenangan mereka yang sesungguhnya telah direnggut oleh benda yang disebut gadget, PSP dan sebagainya. Seandainya aja mereka tahu ada lebih banyak permainan yang mampu melatih fisik dan jiwa sosial mereka lebih baik lagi, yaitu main diluar bersama teman – teman tetangga. Sekarang ini mereka lebih tertarik untuk melakukan kegiatan yang praktis tanpa perlu keluar peluh. Yeah, ini juga didukung oleh lingkungan keluarga. Kalau orang tua si anak membiarkan kegiatan ini berangsur – angsur hingga dewasa, maka si anak akan kurang dekat ama orang tua. Coba aja deh kasih smartphone ke adik, anak, cucu atau yang bisa dibilang masih anak kecil deh pastilah mereka kegirangan n akhirnya hanyut dalam dunianya sendiri yang sebenarnya gak melibatkan orang – orang sekitar. For temporary it’s ok lah, tapi lama kelamaan bikin jengkel juga kalau dipanggil suka gak nyahut. Mereka terlalu terlena dengan kegiatan barunya. Interaksi terhadap anak dan orang tua pun lama – lama bisa menipis cuman gara – gara smartphone doank.

Pesan apa sih yang pengen aku sampaikan disini?
Well, ternyata dampak berseluncur di media sosial cukup bahaya juga lho. Bisa lupa diri, lupa pasangan hingga lupa nyari pasangan hidup, jadilah jomblo selamanya *lho. N parahnya ada seuah kasus yang mengatakan bahwa seorang pemuda meninggal hanya karena keasyikan main game jadi lupa diri hingga gak makan berhari – hari lamanya. Kejadian ini bukan isapan jempol doank lho ya. Bahkan dulunya si Popeye alias suamiku sekarang adalah gamer sejati (ngakunya) yang menghabiskan waktu berhari – hari gak tidur n makan. Dia malah asyik menuntaskan permainan di PC hanya untuk memuaskan hasrat game-nya. Lain lagi ama suami temenku, walaupun si istri di samping tapi suaminya asyik sendiri main hp atau game. Kelakuannya ini dari masa – masa pacaran sampai menikah n punya anak lho, guys. Jadilah dia sering curhat masalah pasangannya yang kelewatan kalau sudah main game. 

Hal ini yang mendorong WHO (World Health Organisation) mengeluarkan statmen bahwa orang yang kecanduan bermain game punya gangguan mental. Istilah Compulsive Gaming ini pun melekat pada mereka yang punya kebiasaan gak bisa lepas dari game. Ini yang mengingatkan kita kembali bahwa sesuatu yang berlebihan ternyata bukanlah hal yang positif untuk terus ditekuni. Kesehatan atau bahkan hubungan keluarga pun bisa renggang jika kamu terlalu sibuk dengan dunia maya, guys.

Sempat Punya Kenalan Gara – Gara Media Sosial
Dulu waktu jaman facebook masih naik – naiknya aku punya temen kenalan. Cowok. Emang gak pernah kenal sebelumnya sih. Lagian saat itu aku juga baru punya akun fb, masih barulah di dunia maya itu. Istilah kenal gak kenal pun bukan kendala untuk selalu confirm atau add temen baru. Yang penting banyak temen, setidaknya bisa nyaingin temen – temen yang udah lumayan lama di fb. Kalau begitu kan bisa ngaruh juga dengan like jempol mereka ke postingan kita nanti. Well, itu yang ada dipikiran aku dulu. Jumlah temen di fb selalu menjadi prioritas, karena bisa menentukan keren atau tidaknya kamu di dunia maya tersebut. Biarpun gak kenal ama mereka, biarpun juga gak pernah tegur sapa ama mereka. Yang penting add terus dah. N finally akibat keseringan ngelike status orang aku bisa kenalan ama satu cowok lumayan cakep. Cuman buat temenan n dijadikan bahan obrolan ama temen – temen kost ntar. Padahal, saat itu aku juga punya cowok lho cuman cowokku saat itu sok sibuk dengan kegiatan kampusnya. Jadilah si cowok medsos ini jadi temen kenalan yang lumayan menguntungkan (iish, ternyata licik juga ya aku dulunya haaha).

Si temen medsos ini ngajak untuk hang out. Yeah, walaupun cuman sekadar nemenin doi potong rambut doank. Ngeliat jadwalku yang banyak kosongnya setelah jam mata kuliah, akhirnya aku pun mengiyakan donk. Lumayan diajak jalan – jalan, daripada jadi penghuni kost melulu kata temen – temen. Alhamdulillah aku kenal ama cowok medsos yang bener – bener baik hatinya, gak punya niat apa – apa selain cuman temenan. Kagak ganjen. Apa adanya. Setelah nemenin doi aku pun dipulangkan ke orang tuaku *lho, maksudnya dipulangkan ke kost-an dengan tubuh lengkap dari kepala hingga kaki. Gak ada yang kurang sedikitpun. Di fb pun kami seperti biasa tegur sapa, gak ada unsur apa – apa sih. Emang niatnya baik aja.

Tapi gak semua cowok berpikiran sama kaya temen kenalanku ini, guys. Buktinya masih ada aja yang berniat untuk menipu menjadi orang baik – baik tapi akhirnya anak orang diperkosa n gak dipulangin ke rumahnya. Bahkan parahnya nyawa mereka dihilangin cuman gara – gara memuaskan hasrat. 

Beruntungnya aku yang dulunya jadi anak perantauan selalu dapat temen – temen yang emang baik. Gak punya niatan untuk jerumusin ke lubang hitam. Bahkan hampir semua dari mereka juga masih polos. Yeah, meskipun polos – polosnya mereka juga bisa pacaran. Hahahaha. But well I was so lucky. Kangen deh ama mereka.

Buku vs Internet
Banyak dari mereka yang bukan pembaca baik ternyata dengan adanya internet membuat mereka menjadi pembaca aktif. Ini akibat internet telah menggoda mereka dengan kepraktisan. Cukup modal kuota atau wifi gratisan kamu bahkan bisa menjelajahi dunia yang tidak pernah kamu kunjungin sebelumnya hanya dengan internet. Beda halnya dengan buku; kamu bisa menjelajahi isinya jika kamu bertandang ke toko buku, perpustakaan daerah atau mengordernya terlebih dahulu. Ini yang membuat orang – orang malas untuk membaca buku. Padahal, membaca buku lebih banyak positifnya lho dibandingkan sekadar baca di internet. Dengan buku kamu bisa hanya terfokus pada satu titik tanpa terbagi – bagi (ngerti gak sih?). Menelusuri setiap barisan kalimat – kalimat yang ada di buku ternyata mampu mengurangi kepikunan atau bisa disebut alzheimer. Bagusnya lagi bisa mengurangi stress, menstimulasi mental, memperkaya kosa kata, meningkatkan konsentrasi, melatih keterampilan dan menganalisa dan masih banyak lagi deh.

Memang sih internet juga memperkaya pengetahuan kita akan sesuatu. Bahkan bisa dibilang lebih, tapi sadar gak sih ternyata sinar biru yang menerpa mata kita bisa berdampak buruk bagi kesehatan? Apalagi paparan sinarnya sampai berjam – jam lamanya. 

Well, semoga kita menjadi orang yang bijak dalam menggunakan akun jejaring sosial ya. Bijak dalam berkomentar dan mempublikasikan setiap jengkal kehidupan pribadi kita. Ada beberapa hadis Al quran yang mengatakan bahwa:


“Setiap umatku mendapatkan pemaafan, kecuali orang – orang yang menceritakan (aibnya sendiri). Sesungguhnya di antara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seseorang yang melakukan perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah swt kemudian di pagi harinya dia sendiri membuka yang ditutupi Allah itu (HR. Bukhari dan Muslim)”


Hadis ini mengingatkan kita bahwa jangan terlalu terbuka pada dunia medsos. Apa – apa harus upload, apa – apa harus pasang status. Akan lebih baik jika kehidupan pribadi kita hanya kita dan Allah swt saja yang tahu. Gak perlu ngumbar sana – sini, guys. Mungkin inilah yang membuat aku untuk gak selalu pasang status setiap waktu. Kalaupun pasang status ya cuman sekadar motivasi diri sendiri jadi lebih baik.

You May Also Like

0 comments

Leave a comment here n let's be friend :)
(follow for follow)